Sabtu, 22 Agustus 2020

Baik atau burukkah helikopter parenting

Helikopter parenting, baik atau buruk ya? Sebelum kita membicarakan pengasuhan anak model helikopter ini, saya ingin berbagi cerita dulu nih,, 

Pernah sebelumnya saya mendapat wa dari grup orangtua murid kalau hari ini anak bawa pianika, disebutlah nama anak saya belum bawa. Kebetulan belum bel masuk, dan saya pikir ini orangtua peduli banget,, anak saya aja sampai di perhatiin. Isi wa itu, meminta agar saya membawakan pianika.

Mulanya, saya berpikir ini sangat bagus untuk anak agar dapat menguasai pelajaran pianika pada hari itu. Tapi, setelah saya renungkan baik2, ini tidaklah baik. Mempersiapkan diri ke sekolah adalah tugas anak. Pastinya guru sudah memberi tugas dan mengingatkan untuk perlengkapan yang harus dibawa. Tugas orang tua cukup memastikan saja.

Kebetulan di sekolah anak saya tidak ada buku penghubung, grup wa ada hanya saja kala itu info pianika tidak di info. Mungkin si ibu guru ingin ngetes juga sih, sejauh mana kemandirian anak. Singkat cerita, anak saya gak bawa nih,, dan jadilah bapaknya balik lagi ke sekolah bawa pianika.

Sore harinya, saya konfirmasi ke anak, apakah ibu guru sebelumnya memberi tugas bawa pianika,,. Iya,,kata anak saya. Lalu kenapa kamu gak bawa,, Maaf ma,,lupa. Ok,,besok2 kalo ada tugas kamu catet ya, trus ingetin mama, jadi besoknya mama bisa bsntu ingetin. Dan, satu lagi,,kalau kamu ada yang tertinggal kamu tanggung jawab ya,, misalnya guru menghukum kamu maka kamu harus terima karena itukan kesalahan kamu karna gak teliti.

Pengalaman pianika tertinggal ini memberikan pelajaran ke saya sebagai orangtua untuk membangun komunikasi dan kerjasama dengan anak. Setelah kejadian pianika ini, biasanya anak saya pulang sekolah selalu lapor untuk tugas2. Dan saya selalu tulis di kertas dan segera di tempel di dinding agar anak saya juga ingat dan melakukan tugasnya.

Nah,, kalau kami membangun komunikasi dan kerjasama yang baik, namun ada juga orangtua yang selalu memudahkan anak yang tujuannya agar anak bisa mencapai keberhasilan atau kesuksesan. Memang hasilnya sukses tapi,,apa yang terjadi bila kita orangtuanya tidak ada. Bisakah si anak mandiri? Dapat menyelesaikan masalah? Dapat mengambil keputusan? Berani ambil resiko? Berani tanggung jawab?

Ilustrasinya pertama seperti ini. Ma..aku ada tugas lks. 
Ya,, ok, halaman berapa,, ambil buku paket kamu. Baca soalnya,, buka materinya di lks klo gak ada di buku paket.
 Ma,, di materi ljs dan buku paket gak ada jawabannya. 
Coba mama lihat soalnya,,ooo ok,, cari di google pakai hp mama aja biar praktis.

Ilustrasi kedua seperti ini. 
Ma.. aku ada tugas lks..
Sini mama lihat,,, ah.. ini gampang.
Nih.. kamu baca deh ini ada tuh jawabannya,, ayo tulis jawabannya. Sambil menunjuk bacaan yang menjadi jawabannya.

Nah dari dua ilustrasi diatas salahsatunya merupakan helicopter parenting. Berikut kutipan dari wikipedia mengenai helikopter parenting, terjemahan ver.


Orang tua helikopter (juga disebut orang tuayang suka berkumis atau sekadar orang berbenteng ) [1] adalah orang tua yang sangat memperhatikan pengalaman dan masalah anak atau anak-anak, terutama di lembaga pendidikan. Orang tua helikopter dinamai demikian karena, seperti helikopter , mereka "melayang-layang", mengawasi setiap aspek kehidupan anak mereka secara konstan.
Metafora ini muncul pada awal tahun 1969 dalam buku terlaris Between Parent & Teenager oleh Dr. Haim Ginott , yang menyebutkan seorang remaja yang mengeluh: "Ibu melayang di atas saya seperti helikopter ..." [2]

Foster Cline dan Jim Fay menciptakan istilah "orang tua helikopter" pada tahun 1990. 

Helikopter parenting bagi anak sendiri ternyata sangat mengganggu. Biasanya,  si anak suka bicara:
"Iya,,iya,, sudah tahu,,
" ih,,mama,,udah ah,, udah,  cukup,, udah tahu,,
" sampe kapan sih,, mama bicara begitu terus,,

Bagaimana cara agar tidak menjadi orangtua helikopter, pengasuhan helikopter #helikopterparenting
1.sadari bahwa kita telah salah, dan mau berubah
2. Beri kepercayaan anak, kalau mereka bisa
3. Selalu jalin komunikasi yang baik dengan anak.

Adakah peran guru terhadap qhelipkopterparenting
Peran guru terhadap orangtua yang bertipe helikopter #helikopterparenting 
1. Ajarkan anak murid untuk mengucapkan kalimat positif terhadap orangtuanya yg terlalu turut campur dengan perkataan
",, percaya deh sama aku, aku bisa kok,, klo aku gak bisa, aku akan  minta bantuan mama/ayah,,"
2. Ajarkan anak murid untuk selalu bertanggung jawab
Lalu bagaimana bila memang pada dasarnya anak nemiliki kekurangan dan tidak bisa mengurus diri? Tentunya helicopter parenting bisa digunakan